Kamis, 15 Desember 2016

AJAL PEMAKAI SUSUK

Assalamu'alaikum Wr Wb

Masyarakat indonesia pasti sudah tak asing lagi dengan yang namanya susuk.

Susuk adalah benda yang di tanam di dalam tubuh yang dipercaya mampu meningkatkan daya pengasihan,kebal senjata tajam,menambah kekuatan keilmuan dan masih banyak lg khasiat dari susuk, jenis susuk ada bermacam-macam ada susuk emas,berlian,samber lilin,gabah/beras,galih kayu, dan ada juga yang dari bagian tubuh hewan.

Pemasangan susuk biasanya di pasang pada bagian kening,tangan,dan bagian tubuh lainnya.
Pemasangan Susuk di masukan di luar daging di dalam kulit karena sangan berbahaya jika sampai masuk ke dalam lapisan daging,
Susuk juga bisa di tanam di dalam lambung dengan cara di telan.biasanya orang yang memakai susuk akan ada pantangan tersendiri yang harus di jauhi agar energi yang dipancarkan oleh susuk tersebut tetap stabil, setiap susuk mempunyai pantangan yang berbeda-beda tergantung  dari jenis susuk yang di pasang dan jenis aliran sang pakar susuk tersebut.

Banyak di kalangan masyarakat yang menyakini jika memasang susuk maka si pemakai akan tersiksa saat menjelang ajalnya nanti,benarkah rumor tersebut?
Saya akan membahas tentang rumor tersebut apakah MITOS atau FAKTA
simak klarifikasi di bawah ini:

Menurut riset dari seorang pakar susuk berpendapat bahwa semua tergantung kepada pemakai bagaimana cara si pemakai mensiasatinya.

Sebagian masyarakat jaman dahulu memasang susuk untuk menambah daya pengasihan dan menambah daya kesaktian keilmuan yang di pelajarinya,tetapi ada sebagian orang setelah pasang susuk merasa paling istimewa dari yg lain sehingga bersikap semaunya sendiri yg akan membawa pada prilaku dendam,iri hati,dan sombong, sebenarnya disitulah penyebab pemakai susuk tersiksa saat ajalnya tiba, padahal orang yg tidak memakai susukpun jika berbuat semaunya,dengki, dan sombong juga bakal tersiksa saat ajalnya karena sikap dan perbuatan yang di dasari dengan kesombongan sangat dibenci oleh Alloh sehingga orang tersebut harus mempertanggung jawabkan sikapnya saat menjelang ajal dan di alam kubur nanti.

Tetapi jika orang memasang susuk dan membawanya pada tujuan baik, dan selalu taat pada perintah Alloh SWT maka insya Alloh saat menjelang ajal orang tersebut akan dimudahkan.

Itulah klarifikasi tentang ajal pemakai susuk.
Susuk hanya sekedar media yang bisa kita anggap sebagai bentuk ikhtiar kita untuk meringankan urusan duniawi.

Janganlah kita menyombongkan diri karena merasa istimewa karena sesungguhnya semua yang ada hanyalan titipan Alloh SWT

SEKIAN

Selasa, 06 Desember 2016

PEMBAGIAN MANGSA/MONGSO DALAM PRIMBON

Mangsa atau mongso dalam
bahasa jawa adalah perhitungan
periode tanggal tertentu dalam
satu kurun waktu.
Sebenarnya perhitungan mongso
hampir mirip dengan zodiak,mongso
tidak melihat tahun kelahiran, jadi
hanya melihat pada tanggalnya
saja.mongso kelahiran seseorang
dapat mengungkap kepribadian
masing-masing orangnya, tak
hanya itu saja, mangsa kelahiran
juga dapat meramalkan kehidupan
semasa kecil, remaja hingga
beranjak dewasa, selain itu juga
perkerjaan yang cocok serta hal-
hal lainnya secara terperinci.
Namun kali ini saya hanya akan
mempost  pembagian
mangsa menurut primbon saja dulu dan selanjutnya saya akan mempost penjelasan dan kepribadian dari masing2 mangsa tersebut.
Mangsa atau mongso dalam
perhitungan jawa dibagi menjadi
12 bagian, pemberian namanya
pun sederhana, karena hanya
diurutkan sesuai angka, yang tentu
saja dalam bahasa jawa. Mangsa
tersebut adalah Kaso, Karo,
Ketelu, Kapa, Kalima, Kanem,
Kapitu, Kawelu, Kasanga,
Kasepuluh, Desta dan Sada. Untuk
mengetahui masing-masing
periode tanggalnya silahkan simak
dibawah ini:

1. Kaso (23 Juni – 2 Agustus)

2. Karo (3 Agustus – 25
Agustus)

3. Katelu (26 Agustus
– 18 September)

4. Kapat (19 September – 13
Oktober)

5. Kalima (14
Oktober – 9 November)

6. Kanem (10
November – 22 Desember)

7. Kapitu (23
Desember – 3 Februari)

8. Kawelu (4 Februari – 1 Maret)

9. Kasanga (2 Maret – 26 Maret)

10. Kadasa (27 Maret
– 19 April)

11. Desta (20
April – 12 Mei)

12. Sadha/sada
(13 Mei – 22
Juni)

Itulah pembagian 12 Mangsa dalam hitungan primbon jawa.
Untuk selanjutnya saya akan mempostng penjelasan atau makna dari masing-masing mangsa di atas secara rinci.

Sabtu, 03 Desember 2016

DEFINISI HANTU

Dalam kehidupan manusia pasti sudah tak asing lagi dengan yang namanya hantu,yang kebanyakan masyarakat meyakini hantu adalah arwah dari orang yang sudah meninggal tetapi orang tersebut belum bisa menerima kematiannya dan akhirnya menjadi hantu atau arwah penasaran, di indonesia kita mengenal beberapa macam hantu ada pocong,kuntilanak,genduruwo,tuyul,dan masih banyak lagi.Yang jadi pertanyaan dari mana sebenarnya asal usul hantu?, apakah benar hantu adalah arwah/roh orang yang meninggal tidak tenang?. Jawabanya akan saya bahas di sini secara ilmiah.

Manusia mempunyai badan fisik dan jiwa, Dalam kepercayaan masyarakat bahwa HANTU itu ARWAH sedangkan definisi ARWAH adalah ROH/JIWA, sedangkan dalam hadist menjelaskan bahwa Rosululloh SAW bersabda: “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631). Itu artinya jiwa kita akan kembali kepada sang pencipta yaitu Alloh SWT, itu berarti HANTU bukanlah ARWAH penasaran.

Jadi sebenarnya dari mana asal usul hantu?, Jawabanya adala Qorin!! Yg artinya adalah pendamping manusia dari golongan jin, seperti dalam hadist Rosululloh SAW bersabda:

ما منكم من أحد إلاوقد وكل به قرينه من الجن

"Setiap orang di antara kalian telah diutus untuknya seorang qorin (pendamping) dari golonganjin”. (Hadits Riwayat Muslim).

Dan jika manusia meninggal qorin akan secara bebas kemana saja yg dia mau karena memori yg terekam oleh manusia semasa hidup juga akan terekam oleh jin qorin. Kesimpulannya adalah HANTU bukanlah ARWAH/ROH orang yg meninggal tetapi JIN QORIN sang pendampin manusia tersebut yg menjelma menjadi HANTU.

Sekian yg dapat saya jelaskan jika ada kesalahan mohon di maklumi karena sebagai manusia pastinya tak luput dari kesalahan. TERIMA KASIH